Rabu, 26 Juni 2013

Kemaksiatan Terburuk Penuntut Ilmu



Apakah kemaksiatan terburuk yang seringkali dilalaikan oleh penuntut ilmu?
Asy Syaikh Abdussalam Barjas Al Abdil Karim rahimahullah berkata,
“Semua maksiat jelek, akan tetapi maksiat terjelek yang seringkali tersamar oleh penuntut ilmu adalah takabbur, sombong, merasa besar, tertipu dengan dirinya sendiri sehingga dia memandang rendah serta merasa tinggi dari orang lain. Dia pun berjalan dengan gaya yang congkak, banyak bicara serta tak lepas dari sifat besar diri dan semisalnya.”
Allah telah melarang sikap sombong,
وَلا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(Luqman: 18)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,
لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من كبر
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada sebesar biji sawi dari kesombongan.” Kemudian seorang berkata: “Seseorang suka bila bajunya bagus, dan sandalnya bagus?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Sombong itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”

Disebutkan di dalam kitab Tahdzibul Ihya’
“Sombong dengan ilmu itu adalah perusak terbesar dan penyakit yang parah dan paling susah diobati kecuali dengan usaha yang keras serta dan kesungguhan yang maksimal. Hal itu karena kadar ilmu itu besar di sisi Allah, dan besar pula di sisi manusia, lebih besar daripada kadar harta, kecantikan, dan lainnya.”
Kesombongan yang ada pada diri seorang penuntut ilmu adalah sesuatu yang mematikan yang bisa menghalanginya dari kebenaran.
Ibnul Jauzi berkata,
“Seorang yang merasa cukup dengan ilmunya apabila dicampuri dengan sikap memandang hebat pada dirinya, maka dia akan terhalangi dari kebenaran. Kita berlindung kepada Allah dari hal itu.”
Dan hendaknya betul-betul kita perhatikan apa yang disampaikan oleh Asy Syaikh Abdussalam berikut,
“Di masa ini kita telah diuji dengan sedikit –dan segala puji bagi Allah-, mereka membaca satu kitab atau dua kitab, menghapal satu dua masalah, kemudian setelah satu atau dua hari –dari umur mereka dalam menuntut ilmu- mereka menjadi mujtahid.
Sekiranya mereka membatasi diri dengan tipu daya yang kosong ini maka tentu itu lebih baik, akan tetapi mereka menganggap kecil para ulama, membodoh-bodohkan para penuntut ilmu dan para da’i. Mereka memandang diri mereka telah berada di manzilah yang tinggi yang tidak dicapai seorang pun, tampak itu semua pada pakaian, cara jalan mereka, serta ucapan mereka.
Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Alangkah berbahaya dan sedikitnya manfaat mereka, dan betapa kokoh kebodohan mereka. Kami memohon kepada Allah ta’ala untuk memberi hidayah kepada mereka kepada jalan yang lurus.”
(Sumber: Kitab ‘Awaiquth Thalab, DR. Abdussalam Barjaz, halaman 16-17)
sumber:wirabachrun.wordpress.com

Senin, 24 Juni 2013

Antara Menuntut Ilmu atau Segera Menikah

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Ustadz, sy ingin menikah muda, utk mnyelamatkn agama sy. Umur sy
20thn. Tp sy agak dilema karena sy baru kenal manhaj salaf, bahkan
baru mulai belajar tauhid (baru mulai ngaji tsalaatsatul ushuul), & sy
sdh pernah tanyakn ke salah seorang ustadzah bahwa sebaiknya sy
menuntut ilmu dlu baru menikah. Tp sehubngan dg bnyaknya fitnah, sy
takut trjerumus ke dalamnya. Alhamdulillah saya ketemu artikel tulisan
ustadz tentang ‘bingung antara menuntut ilmu atau menikah’. Maka
kembali sy konsultasikn dg ustadzah tp jwbnnya tetap sama, karena
kalau sdh menikah akan sibuk. Jd sarannya sy menuntut ilmu dlu. Tp
tetap saja sy seperti masih ada yg mengganjal. Apa sebenarnya yg hrus
sy lakukan? Karena sy jg belum punya ilmu tentang menjadi seorang
istri yg shalihah, tentang kehidupan rumah tangga, dll. Tp sy mmg
sngaja belum mempelajari itu semua karena mau konsen belajar aqidah
dlu, krna sy hrus memperbaiki aqidah dlu. Apakah keadaan keilmuan sy
yg seperti ini termasuk dlm kategori “belum mampu” untuk menikah
shngga harus menunda menikah?

Baarokallahu fiik. Jazaakallahu khayran.

Dijawab oleh Abu Ibrahim Abdullah Al-Jakarty

Afwan baru sempat balas. ada beberapa poin yang ana ingin sampaikan disini
1.Hukum menikah pada diri seseorang berbeda2, ada yang wajib ada yang sunnah. yang hukumnya wajib ketika seseorang khawatir jika dia menunda menikah atau tidak segera menikah akan terjatuh pada fitnah atau maksiat. dan insya Allah jika sesuai dengan apa yang saudari ceritakan ini kondisi saudari.

2. Ada sebuah kaidah “Dar’ul Mafasid Muqadam ‘Ala Jalbi Mashaalih” Mencegah kerusakan lebih didahulukan dari pada meraih kebaikan. apa yang anti alami bisa diterapkan kaidah ini. kerusakan khawatir terjatuh dalam perbuatan maksiat itu lebih didahulukan untuk dicegah dengan segera menikah daripada mengambil kebaikkan menuntut ilmu syar’i.

3. Dan perlu diketahui tidak ada pertentangan antara menikah dengan laki-laki shalih dengan menuntut ilmu syar’i. karena laki-laki yang baik, yang shalih akan membantu anti untuk taat kepada Allah diantara ketaatan adalah menuntut ilmu syar’i.

4. Setiap orang mempunyai kesibukkan masing-masing, yang gadis mempunyai kesibukkan begitu juga yang mempunyai suami. Namun yang mempunyai suami, jadi ada yang menolongnya untuk menuntut ilmu, ada mahram yang menemaninya menuntut ilmu jika meharuskan safar dalam menuntut ilmunya.

5. Apa yang saudari lakukan dengan semangat untuk menuntut ilmu syar’i sudah benar terlebih lagi dalam permasalahan tauhid dan aqidah, namun jangan melupakan sesuatu yang sedang atau akan segera saudari hadapi, dalam hal ini seperti permasalahan menuntut ilmu yang terkait dengan pernikahan dan rumah tangga.

6. Persiapkan dari sekarang ilmu syar’i tentang pernikahan dan rumah tangga, dengan tanpa melalaikan atau melebih porsikan dari mempelajari permasalahan tauhid dan aqidah.

wallahu a’lam bis shawwab mungkin itu yang bisa ana sarankan kepada saudari. semoga bermanfaat

Rabu, 19 Juni 2013

Untaian zamrud buat istri.


Abu Nasiim Mukhtar “iben” Rifai La Firlaz
             
  Istri mana yang tidak akan tersanjung bahagia jika seuntai perhiasan dikadokan sebagai hadiah oleh suaminya? Apalagi, untaian itu bukan sembarang untaian. Zamrud kehijau-hijauan asli dari kawasan tambang Kolombia, Amerika Latin. Ini bukan emas atau perak. Ini zamrud, lambang dari keindahan perhiasan.
Di tambah lagi watak wanita yang sangat menyukai perhiasan, tentu kado tersebut akan sangat berkesan. Jangankan seuntai zamrud, gelang perak atau cincin emas saja akan membuat hati seorang istri berbunga-bunga. Atau tidak usahlah emas dan perak, sebuah jepit rambut berwarna pink yang dibeli suami saat keluar kota, pasti memiliki nilai tersendiri ketika diserahkan sebagai oleh-oleh.
“Harganya memang tidak seberapa. Namun, jepit rambut ini adalah bukti bahwa aku selalu mengingat dirimu saat aku jauh darimu”, sapa sang suami.
Masalahnya, tidak semua suami mampu mengkadokan seuntai zamrud, gelang perak atau sebuah cincin emas. Juga tidak setiap saat seorang suami pergi keluar kota sehingga berkesempatan membeli oleh-oleh untuk sang istri. Padahal setiap istri selalu berangan-angan untuk disenangkan hatinya oleh suami. Jadi, langkah apa yang harus dilakukan seorang suami?
Disalah satu ayat surat AzZukhruf, Allah menegaskan tentang sifat dasar kaum wanita. Allah berfirman,
أَوَ مَن يُنَشَّؤُا فِي الْحِلْيَةِ وَهُوَ فِي الْخِصَامِ غَيْرُ مُبِينٍ
Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat member alasan yang terang dalam pertengkaran. (QS. 43:18)

Ayat ini menjelaskan bahwa kaum wanita adalah makhluk yang selalu akrab dan senang dengan perhiasan sejak ia dilahirkan. Salah satu fungsinya adalah untuk mempercantik diri secara dzahir. Sifat wanita lainnya adalah keterbatasan di dalam mengungkapkan dan mengutarakan isi hati. Sekuat dan setegar apapun seorang wanita di dalam menghadapi kerasnya kehidupan, tetap saja ia harus memperoleh kelembutan dan perhatian._Tafsir As Sa’di_
Jangan sakiti hati istrimu! Perlakukanlah dia dengan cinta dan kasih sayang. Berlemah lembutlah kepadanya!

Sebuah Ruang di Sudut Hati Istri

Sadarilah, wahai Suami.
Istri sebagai seorang wanita adalah makhluk yang membutuhkan kelembutan. Jalan terakhir yang bias dilakukan oleh seorang istri–seringnya demikian- hanyalah menangis dan mencucurkan air mata. Pada dasarnya, seorang wanitalebih cenderung untukmenyimpan dan memendam rasa dari pada harus mengungkapkannya.
Tahukah Anda, wahai Suami?  Apakah yang tersembunyi di sudut relung hati seorang istri?
Di sudut relung hati seorang istri ada sebuah ruang kecil dan tersembunyi. Ukuran ruang tersebut memang secara dzahir tidak terlalu besar. Namun, saat Anda benar-benar memasuki ruang tersebut ada sebuah alam ketentraman dan kebahagiaan yang bias ia rasakan. Dari ruang tersebut memancar cahaya keceriaan yang tak kunjung padam selama Anda sebagai suami selalu menjaga agar sumber cahaya tersebut tetap menyala.
Andai ruang kecil di sudut relung hati istri, mampu Anda isi dan penuhi dengan nyala “perhatian”, pasti ia akan merasa menjadi istri yang beruntung. Bagi seorang istri, perhatian dari suaminya melebihi nilai zamrud, emas, perak dan perhiasan lainnya. Perhatian suami adalah seuntai perhiasan yang selalu di harap-harapkan oleh seorang istri.
Tidak perlu Anda bertanya lagi kepada istri Anda tentang hal ini! Sebab, ia hanya akan menjawab dengan anggukan penuh malu.
Nabi Muhammad adalah figure seorang suami yang sangat sempurna di dalam memberikan perhatian kepada istri. Bila saja kita memiliki kesempatan (pasti nya ada) untuk sebentar saja menilik kehidupan rumah tangga beliau, tentu taman-taman indah akan terbentang luas di hadapan kita. Untuk merinci atau menyebutkan contoh-contoh perhatian Nabi Muhammad kepada istri seyogyanya memang dikhususkan dalam sebuah tulisan tersendiri.
Namun, cukuplah kiranya pesan dari Nabi Muhammad berikut ini. Beliau bersabda,
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَ أَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِيْ
“Orang terbaik di antara kalian adalah orang yang terbaik di dalam bersikap kepada keluarganya. Dan saya adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku”
(Hadist Ibunda Aisyah riwayat Tirmidzi (2/323) dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah 1/51)
Nah, wahai Suami, baarakallahufiik.
Berbentuk apakah perhatian yang bias dilakukan untuk istri? Sangat banyak dan beragam jawabannya. Mudah-mudahan sepenggal tips berikut bias Anda renungkan dan pikirkan dengan baik.

Menjadi Pendengar Terbaik Baginya

Seorang istri –sesuai kodratnya-, mengemban tugas yang tidak ringan. Oleh sebab itu, seorang suami berkewajiban untuk membantu meringankan beban tersebut. Caranya?
Luangkan waktu untuk istri Anda! Ya, berilah waktu khusus untuk istri Anda agar dia bias mengalirkan beban-bebannya yang sekian lama mengendap di hatinya. Kondisikan istri Anda agar mau berbagi cerita tentang aktifitas hari ini yang telah ia lakukan. Dan, Anda harus siap untuk menjadi seorang pendengar yang baik.
Waktu mungkin bukan masalah. Namun, memilih waktu yang tepat tentu semakin membuat istri Anda semakin merasa dicintai dan diperhatikan. Pilihlah waktu di malam hari, saat anak-anak Anda telah tertidur lelap dalam mimpi.
Berilah kesempatan untuk istri Anda bercerita tentang kondisi rumah dan anak-anak hari ini. Pengalaman menarik apa yang dirasakan saat berbelanja kewarung pagi tadi. Tanyakan kepada istri tentang apa yang bias Anda lakukan untuknya. Buatlah istri Anda merasakan kenyamanan dan ketentraman saat ia bercerita di hadapan Anda. Sebab, tugas suami adalah menghadirkan ketentraman jiwa untuk sang istri.
Sadarilah bahwa salah satu tanda keharmonisan sebuah keluarga adalah komunikasi terbuka antara suami dan istri. Istri tidak pernah merasa khawatir dan cemas jika ia berterus terang. Ia menganggap suaminya sebagai penganyom dan pelindung. Sangat berbahaya sekali, jika istri menganggap Anda sebagai seorang penyidik atau interrogator sehingga ia selalu merasa takut jika berbicara di hadapan Anda.
Al Imam Al Bukhari di akhir pembasahan tentang waktu-waktu shalat, membuat sebuah judul bab “Begadang bersama tamu dan keluarga”. Sebab, pada dasarnya begadang malam tidak boleh dilakukan kecuali dalam urusan agama. Namun, karena besarnya hak tamu dan keluarga, Islam lantas membolehkannya.
Sahabat Ibnu Abbas pernah bercerita (Shahih Bukhari),
بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَتَحَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ أَهْلِهِ سَاعَةً ثُمَّ رَقَدَ
“Aku pernah menginap di rumah bibiku Maimunah (istri Rasulullah). Malam itu, Rasulullah berbincang-bincang dengan keluarga beliau (Maimunah) beberapa waktu. Setelah itu barulah beliau tidur”

Anda pasti merasakan lelah juga?

Mungkin Anda bias saja bertanya? Sebagai suami, saya pun merasakan lelah dan capek. Seharian saya mencari nafkah, dari pagi hingga petang. Malam hari tentu lebih baik saya gunakan tidur untuk beristirahat.
Nah, dititik inilah Anda sebagai seorang suami akan diuji.
Di dalam mencari nafkah, menjalankan rutinitas dalam sebuah profesi, tentu Anda dituntut untuk melayani orang lain, bukan? Dokter, pelayan toko, pedagang, pegawai, karyawan, guru, polisi, tentara, pengelola warung makan atau silahkan saja sebut profesi-profesi lain. Bukankah di setiap profesi tersebut, Anda harus bias memberikan pelayanan kepada masing-masing obyek profesi?
Lalu, jika Anda bias memberikan pelayanan dan perhatian kepada orang lain, kenapa Anda tidak melakukannya kepada istri Anda sendiri? Selelah apapun Anda, berilah kesempatan istri untuk berbagi cerita.
Bayangkanlah, wahai Suami!
Di sebuah malam. Anak-anak Anda telah nyenyak bermimpi. Secangkir the panas dan beberapa potong goring anter saji di meja makan sederhana. Anda sedang mendengarkan istri Anda bercerita tentang aktifitas hari ini. Tentang anak-anak dan pekerjaan rumah lainnya. Atau apapun cerita yang bias diungkapkan oleh istri Anda.
Sesekali Anda memberikan tanggapan dengan penuh kelembutan dan canda. Buatlah ia tertawa untuk menggantikan lelahnya! Tataplah wajahnya dengan penuh kasih sayang. Tunjukkan bahwa Anda benar-benar serius mendengarkan ceritanya. Buktikan bahwa Anda adalah seorang suami yang mampu merangkai “perhatian” dalam sebuah untaian indah. Mengalahkan untaian zamrud kehijau-hijauan.
Semoga,istri-istri kita merasakan nyenyak dalam tidurnya dan bermimpi indah terselimuti oleh perhatian suaminya. Amin yaa Arham arRahimin

Minggu, 16 Juni 2013

Jagalah Allah, Allah akan menjagamu...

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْماً، فَقَالَ : يَا غُلاَمُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اْحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ  يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ
Dari Abu Al Abbas Abdullah bin Abbas radhiallahuanhuma, beliau berkata : Suatu saat saya berada dibelakang nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda : Wahai ananda, saya akan mengajarkan kepadamu beberapa perkara: Jagalah Allah, niscaya dia akan menjagamu, Jagalah Allah niscaya Dia akan selalu berada dihadapanmu. Jika kamu meminta, mintalah kepada Allah, jika kamu memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah sesungguhnya jika sebuah umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu , niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.
(Riwayat Turmuzi dan dia berkata : Haditsnya hasan shahih).